
Sebelum menguraikan Kayon saya akan melantunkan Suluk pathet Sanga sebagai dasar judul dari buku kedua ini.
Kayune purwa sejati
Pangira jagat godhong kinarya rumembe
Apradapa kekuwung
Kembang lintang salaga langit
Woh surya lan tengsu
Kasirat bun lan udan
Puncak akasa bumi bengkah pratiwi
Oyode bayu bajra
Istilah Kata ‘Kayon’ dari judul seri kedua buku ini diambil dari kata ‘kayu’ dan kayu pasti identik dengan pohon. Sebagaimana suluk Pathet Sanga Wantah yang saya lantunkan tadi, yang dibuka dengan kalimat “Kayune purwa sejati”, yang arti literernya “kayu awal yang sejati”. Kata ‘kayu’ yang dimaksud dalam suluk ini tentu saja bermakna filosofi sebagai pohon atau tumbuhan. Bahwa sejatinya kehidupan bermuasal dari tetumbuhan. Semua makhluk hidup bisa melangsungkan kehidupannya hingga detik ini karena masih adanya tetumbuhan sebagai bahan dasar sumber pangan.
Oleh karena itu, dalam bahasa Jawa pohon atau tumbuhan yang tumbuh liar disebut dengan ‘wit’ (tunggal( atau ‘wit-witan’ (jamak), yang merupakan kependekan dari kata ‘wiwit’ atau ‘kawit’, yang artinya ‘permulaan’ atau ‘awal’ (kehidupan), sementara untuk tanaman yang diusahakan oleh manusia disebut dengan ‘tanduran’. Artinya, Tuhan menciptakan bahan makanan lebih dahulu sebelum makhluk hidup lainnya dihadirkan. Tanpanya, tidak akan ada kehidupan, semua makhluk yang ada di muka Bumi ini akan mati.
Dalam konteks hubungan antara manusia dengan alam seharusnya relasinya antara dua subyek, bukan antara subyek dan obyek, yang jika demikian hanya akan melahirkan relasi eksploitatif. Hidup yang harmoni akan tercipta apabila antara dunia fisik dan non fisik sebagaimana dilukiskan pada Kayon itu saling berinteraksi dalam kerangka saling menghormati, bukan dengan cara mengeksploitasi atau menindas satu kepada yang lain. Karena antara tumbuhan, hewan, manusia, dan alam non fisik, mereka hidup bersama di dalam satu dunia. Manusia harus paham posisinya karena ia makhluk yang dikaruniai akal sehingga boleh dikata ia menjadi faktor penentu. Manusia adalah agen kemana dunia ini mau dibawa: kehidupan harmonis atau rusak. Namun jika yang diinginkan manusia adalah membuat kerusakan di muka Bumi, maka yang terjadi adalah sebagaimana yang dilukiskan di sisi belakang Kayon, yakni kepala raksasa dengan rambut api yang berkobar-kobar. Sisi di sebalik Kayon ini adalah perlambang kehancuran kehidupan; terjadinya bencana, kerusakan, dan penderitaan, sebuah dunia yang kacau balau dan penuh angkara murka!
Buku ini terbagi dalam tiga bagian. Bagian 1 mengurai dramaturgi perjalanan hidup dan petualangan seni di awal-awal aku sudah duduk di bangku SMP 3 di Kediri. Berbeda dengan ketika aku masih duduk di bangku Sekolah Dasar yang mana kegiatan seniku lebih terfokus pada seni ludruk, ketoprak, menari, dan menembang. Di masa SMP ini aku melangkah lebih jauh lagi pada jenis kesenian yang kuyakini tidak sembarang orang bisa melakoninya, yakni seni pakeliran atau pedalangan wayang kulit
Bagian 1 dibagi dalam 20 bab yang menceriterakan secara kronologis kisah-kisah dramatik yang aku jalani dalam lingkup sekolah. Kuawali kisah dari perlakuan yang tidak menyenangkan yang aku terima tepat di hari pertama aku masuk kelas dari seorang guru OR yang menampar pipiku yang pipih sebanyak dua kali oleh karena kealpaanku. Perlakuan tidak menyenangkan secara fisik dan verbal yang aku terima dari seorang guru di hari pertamaku masuk SMP itu sedikit banyak sempat mempengaruhi mental dan psikologisku sebagai siswa yang baru berusia 13 tahun dan baru lulus Sekolah Dasar, terlebih perlakuan itu disaksikan oleh teman-teman sekelasku yang belum lagi saling mengenal. Peristiwa ini membuatku benar-benar malu, aku meradang, kecewa dan marah, hingga sempat terbersit keinginanku untuk keluar dan pindah sekolah. Namun seiring berjalannya waktu, aku mencoba mengalah dengan keadaan dan membuktikan bahwa diriku adalah seorang siswa yang tak pantas dilecehkan. Aku seorang juara kelas, meski di kelas satu dipenuhi drama-drama kontroversial dan mengalami perundungan habis-habisan oleh kawan-kawanku sekelas, namun di kelas selanjutnya aku tetap juara kelas, dan akhirnya juara umum di SMP 3 Kediri dan sekaligus mengukuhkan eksistensiku sebagai seorang Dalang Cilik.
Modal mendalang selain aku peroleh dengan berguru juga karena kebiasaanku mendengarkan kaset pedalangan dari Ki Nartosabdo, dan kebiasaannya menonton WK Ki Anom Suroto di stand Pabrik Rokok GG di Jalan Stasiun. Dari sini aku memberanikan diri tampil meski masih dalam bentuk ‘Wayang Garingan’. Aku mengawali mendalang garingan di rumah di hadapan anak-anak tetanggaku dan di ruang kelas di hadapan teman sekelas dan guru, sebelum akhirnya mendapatkan arena yang sebenarnya, ketika mendalang di rumah Nono, teman sekelasku dan di rumah rekanku di Desa Toyoresmi. Dari pentas ini eksistensiku sebagai seorang dalang cilik pun mulai diakui.
Bagian 2 yang terdiri dari 10 juga menyisipkan beberapa kisah hidup saat aku menjadi pemain ketoprak di WO Budi Lestari, relasiku dengan keluarga, relasi dengan pembantu (rewang). Tentang pertunjukan Tayub Tulungagungan dan tak lupa cerita ketika aku sempat mengagumi seorang gadis muda yang di atas usiaku. Di bagian ini juga banyak mengupas telaah nilai-nilai moral dan falsafah Jawa yang diambil dari kisah wayang, tembang, suluk, serat Wedhatama, yang berarti “pengetahuan atau ajaran tentang hal yang utama atau luhur”, karya Sri Mangkunegara IV (1811-1881) di bagian pupuh pangkur, sebagai contoh tembang yang kami kupas adalah sebagai berikut (mingkar-mingkur ing angkara dsb.).
Bagian 3 menyajikan kisah yang sudah menjadi legenda dalam dunia pewayangan, yakni latar belakang Bharatayuda. Bagian ini selain berfokus pada alur cerita juga telaah nilai-nilai moral dari kisah-kisah menjelang pecahnya Bharatayuda yang disampaikan secara kronologis, agar kita bisa mengambil pelajaran dari kisahnya.
Bagian ini perlu kami tampilkan dalam novel ini karena sangat relevan dengan situasi dunia saat ini yang tengah berada dalam ancaman pecahnya perang besar, sebagaimana perang AS dan Israel melawan Iran yang bisa memicu perang dunia ketiga. Modus hidup berbangsa dan bernegara yang selalu menang-menangan, dilandasi kebencian, dan tidak ada yang mau mengalah saat ini tentu akan semakin memanaskan suhu politik yang berpotensi mengancam pecahnya perang. Bharatayuda adalah perang saudara paling akbar dengan jumlah korban sangat besar yang menghantarkan manusia pada titik moral terendah karena sudah pada tataran tidak memanusiakan manusia.
Tinggalkan Balasan