Sinopsis Layar Kertas

•

Sebuah novel yang berkisah tentang drama kehidupan seorang bocah bernama Edi Purwanto dalam kurun 12 tahun awal kehidupannya di Kediri (1962-1974).  Seorang yang di masa kecilnya sudah bergelut dan malang melintang dalam dunia seni pertunjukan, terutama seni ludruk dan ketoprak, selain juga menggeluti seni tari Jawa dan menembang.

Ayah dan Ibuku berasal dari Trenggalek, mereka mulai mengadu nasip di Kota Kediri pada tahun 1961, mengikuti panggilan ayahku yang berpindah sebagai Guru Sekolah Dasar (SD) dari Trenggalek ke Kota Kediri, tepatnya menjadi Guru SD di SD Banjaran IV. Pertama keluargaku indekost di Dusun Pandean, Kelurahan Setono Pande, Kota Kediri, aku lahir di RS Baptis Kediri tahun 1962 sebagai anak pertama. Karena di Pandean sering banjir, keluargaku kemudian pindah sewa rumah di dekat SD Banjaran IV, kemudian membeli rumah tua, bekas pabrik roti, di sebelah timur Pabrik Tegel Yudistira, di pojok, sebelah timur Kuburan Ngadisimo, dekat dengan Pesantren Alhuda, Kelurahan Ngadirejo, Kota Kediri.

Dengan mengandalkan gaji guru SD yang begitu minim di kala itu,  keluargaku hidup pas-pasan, kemudian keluargaku mengawali berbisnis beras, menyetor beras dari petani ke Gudang Bahagia, jualan kayu rencek, minyak tanah, selain ayahku tetap berprofesi sebagai guru SD. Keluargaku akhirnya menanjak ekonominya dan berhasil membeli lahan di belakang rumahku untuk mempeluas rumah dan lahan usaha. Ketika keluargaku membangun rumah baru, aku sempat tinggal bersama nenekku di Desa Pakis, Kecamatan Durenan, Kabupaten Trenggalek selama 3 bulan, aku sempat merasakan suka-duka hidup di desa, menonton saudara-saudaraku bermain WO, sebelum tidur aku selalu didongengkan berbagai kisah oleh nenekku, diantaranya adalah kisah-kisah panji, seperti Ande-Ande Lumut, Bawang abang lan Bawang Putih, Enthit, Sekarjinali dsb.

Di tahun 1970, ayahku telah membeli sepeda motor Honda, ketika itu keluargaku telah dikenal masyarakat Desa Ngadirejo sebagai keluarga muda yang sukes, apalagi ibuku dikenal sebagai wanita yang sangat cantik, sehingga mungkin banyak yang iri dengan keluargaku. September 1970, ayahku tiba-tiba meninggal dunia, oleh kecelakaan sepeda motor di Perak Jombang, beliau meninggal dunia di usia  muda dan sempat memberikan pesan di malam ketiga ke ibuku.

Sepeninggal ayahku telah mengubah jalan hidupku yang kala itu masih berusia 8 tahun, karena aku yang dari kelas satu terbelakang prestasiku di kelas, aku harus mengulang (tinggal kelas) di kelas 3 SD. Karena mengulang di  kelas 3 tersebut, aku yang sebelumnya  adalah pribadi yang minder, terbelakang dan penakut dan prestasi buruk di sekolah sampai kelas 3.  Setelah mengulang di kelas 3, jiwaku  tergugah untuk bangkit menjadi pribadi yang berbeda sama sekali: pintar, pemberani, dan memiliki jiwa kepemimpinan. Titik balik ini bukan hanya terjadi dalam lingkup prestasi belajar di sekolah saja namun juga dalam bidang seni dan budaya, salah satunya adalah seni Ludruk.

Karena kecintaanku menonton Ludruk Vijaya Kusuma yang sering berpentas di Kolam Renang Pagora, dan kegandrunganku dengan pelawaknya bernama Pak Kasenan yang begitu kondang kala itu. Tepat di usiaku ke 10 tahun, memberanikanku untuk membentuk kelompok ludruk-ludrukan anak yang terdiri dari teman belajarku di SD Banjaran VII, di Dusun Ngadsimo, ludrukanku aku beri  nama ‘Edi Warna’ .

Dari seni ludruk inilah hasrat seniku berkembang. Aku kemudian belajar menari di Tebek, Tempat Pembekalan TNI yang dipimpin oleh Pak Haryono, kemudian belajar nembang Jawa ke super-star Ketoprak Vijaya Kusuma, Pak Juwito Asmoro,  berlatih bermain wayang orang dengan Pak Yuwono, sebagai Gatutkaca cilik, juga bermain ketoprak-ketoprakan bersama rekanku di Dusun Kuak, Desa Ngadirejo.

Semua aktivitas seni itu aku jalankan di tengah situasi politik yang mencekam pasca meletusnya G30S-PKI, di tengah rasa saling curiga antara kelompok Santri dan Abangan. Kemudian,  terjadinya kericuhan dan tawuran antar dusun, Ngadisimo dengan Ngadirejo, saat ludrukku manggung di Dusun Ngadirejo yang dipicu oleh aktifitas ludrukanku, hal itu diperparah oleh konflik Santri dan Abangan.

Novel ini selain merekam perjalanan hidupku yang intens bergelut dalam seni panggung tradisional dan budaya Jawa,  juga banyak merekam tradisi dan budaya masyarakat Jawa di Kediri di masa itu, termasuk berbagai adat istiadat, tradisi, beraneka jenis penganan hingga permainan tradisional bocah yang  dibingkai kembali, yang di masa kini sudah amat jarang dijumpai. Tak lupa, buku ‘Layar Kertas’ juga dihiasi dengan cerita romansaku tahun 70-an yang terjalin dengan gadis cilik kembang desaku.

Sepintas novel ini lebih mirip biografi namun juga dapat pula disebut sebagai sebuah etnografi karena banyak merekam kebudayaan, seni, dan tradisi masyarakat Jawa di era 60-70an yang sebagian besar hari ini sudah hilang ditelan jaman. Termasuk mengulas berbagai falsafah Jawa, seperti Bahasa Jawa dan Aksara Jawa, Bahasa Jawa kaya kosakata, belajar menyanyi  Jawa dan filosofi tembang Jawa, gugon tuhon menyebar garam dan sains, hastabrata dan kepemimpinan Jawa,  mengungkap watak Adigang-adigung dan nama-diri nenek moyang kita yang diambil dari dunia hewan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *